Membangun masyarakat sejahtera

Jumat, 08 Juli 2011

BUKU PEDOMAN KULIAH PENELITIAN DAN PENGABDIAN MASYARAKAT


BUKU PEDOMAN
Kuliah Penelitian
dan
Pengabdian Masyarakat








INSURI 
PONOROGO
2011
SAMBUTAN REKTOR

Assalamu’alaikum Wr.Wb.

Alhamdulillah, puji syukur kami panjatkan kepada Allah swt, atas limpahan rahmat, hidayah dan karuniaNya kepada kita. Shalawat serta salam semoga selalu tercurahkan kepada baginda Nabi, Rasulullah Muhammad SAW, yang selalu kita berharap syafaatnya besok di hari akhir.
Kami mengucapkan selamat atas diselenggarakannya kegiatan akademis mahasiswa program Kuliah Penelitian dan Pengabdian Masyarakat sebagai salah satu progam intrakurikuler yang harus ditempuh oleh mahasiswa jenjang S-1. Selangkah lebih maju kita sudah selayaknya terus berbenah di seluruh program tricivitas akademika, termasuk kegiatan KPPM ini yang dikemas bekerjasama antara bidang akademik dan lembaga penelitian dan pengabdian masyarakat. Ini artinya telah terjadi kolaborasi keilmuan, dalam satu sisi merupakan salah satu sarana bagi mahasiswa untuk mengaplikasikan keilmuannya dengan terlibat secara aktif dan partisipatif dengan bersama-sama menggali berbagai potensi yang ada dalam masyarakat. Di sisi lain sekaligus memberikan pengalaman penelitian secara kritis, sehingga diharapkan hasil penelitiannya akan menjadi solusi alternatif untuk pengembangan di masa yang akan datang.
Lebih daripada itu, tidak hanya mahasiswa yang nantinya memperoleh pengalaman dari kegiatan ini, namun diharapkan menjadi salah satu media bagi lembaga  untuk mengemban visi dan misinya dalam rangka mengembangkan wawasan keilmuan, agama, sosial dan budaya  untuk kemaslahatan umat.
Akhirnya, selamat melaksanakan tugas, semoga Allah SWT selalu memberikan bimbingan, petunjuk dan perlindunganNya kepada kita semua, yang akhirnya seluruh program yang telah direncanakan dapat dilaksanakan dengan lancar, berdaya dan berhasil guna, manfaat, maslahah fi al-dunya wa al-akhirah. Amin.
Wassalamu 'alaikum wr.wb.
Ponorogo, 10 Mei 2011
Rektor,

Dr. H. Sugihanto HS, M.Ag
PRAKATA BP-KPPM


Assalamu’alaikum Wr.Wb.

Puji syukur kita panjatkan ke hadlirat Allah SWT, karena dengan kemurahan dan karuniaNya kita masih diberikan kesempatan untuk mejalani hidup dengan berbagai tugas dan tanggungjawab kita sebagai hamba sekaligus khalifah Tuhan di muka bumi (khalifatullah fil ardh).
Shalawat dan salam semoga selalu terlimpahkan kepada Nabi Muhammad SAW, pembawa obor penerang dan penuntun umat. Semoga syafa’atnya untuk kita semua dihari akhir nanti.
Kuliah Penelitian dan Pengabdian Masyarakat sebagai kegiatan akademik rutin Insuri Ponorogo, yang merupakan salah satu fase kurikulum, yang harus dilampaui mahasiswa dalam studi Strata 1. Kegiatan ini diselenggarakan bekerjasama antara pelaksana program akademik dan kemahasiswaan dengan Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LP2M) dalam wadah Badan Pelaksana Kuliah Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (BP-KPPM)
Program KPPM kali ini merupakan bentuk pengembangan dari program-program sejenis pada periode sebelumnya. Suatu yang khas dari kegiatan ini adalah pendekatan yang berbeda dengan kegiatan lapang yang lain (misalnya PPL), selain menjadikan proses ini sebagai bagian dari penelitian yang merupakan bagian dari tugas mata kuliah Penelitian Kolektif.
Dalam melaksanakan tugas pengabdian masyarakat dengan dituntut untuk belajar, mengembangkan pengetahuan sekaligus meningkatkan pengabdian, pemberdayaan dan pengorganisasian masyarakat untuk menuju masyarakat yang religius dan berkeadilan, sebagaimana diamatkan UUD 45.
Oleh karena itu maka mahasiswa harus melakukan tindak pengabdian, suatu intervensi yang partisipatif dan menjadikannya sebagai proses penelitian yang berpadu dengan pengabdian kepada masyarakat. Analisis kritis terhadap fenomena yang berkembang  di wilayah lokasi KPPM, diperlukan untuk mengembangkan berbagai program yang relevan dan realistik dalam proses pelaksanaanya. Pada tahun 2011, KPPM INSURI mengambil tema: “Belajar dari Kearifan Lokal: Bersama Menuju Masyarakat yang Berdaya”. 
Atas pertimbangan diatas perlu dibuat suatu buku pedoman, yang merupakan revisi dan perbaikan atas buku pedoman pada tahun-tahun sebelumnya. Buku ini menjadi rujukan formal pelaksanaan KPPM agar mencapai tujuan sesuai yang diinginkan.
Sebagaimana pada tahun-tahun sebelumnya KPPM tahun 2011, dilakukan secara bersama-sama antara mahasiswa Fakultas Tarbiyah jurusan PAI (Pendidikan Agama Islam) dan PBA (Pendidikan Bahasa Arab), Fakultas  Syariah Jurusan Mu’amalah dan Fakultas Dakwah jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI).
BP-KPPM menyampaikan ucapan terimakasih kepada semua pihak, khususnya kepada anggota Badan Pelaksana bersedia mendukung dan berpartisipasi aktif dalam kegiatan ini. Semoga seluruh kegiatan yang dilaksanakan dapat berjalan dengan sebagaimana yang kita harapkan, dan mendapatkan bimbingan dan Ridha-Nya. Amin

Wassalamu’alaikum wr.wb.

Ponorogo, 10 Mei 2011
Kepala LP2M INSURI
Selalu Ketua BP-KPPM



Murdianto, M.Si



DAFTAR ISI
HALAMAN SAMPUL   .....................................................................       i
SAMBUTAN REKTOR  ...................................................................      ii
PRAKATA BP KKN  ........................................................................     iii
DAFTAR ISI   ....................................................................................     iv
BAB I   :     PENDAHULUAN          
                   A. Dari KKN ke KPPM...................................................      1
                   B. Tema dan Orientasi.....................................................       
                   C. Dasar Pemikiran .........................................................
                   D. Landasan ....................................................................
                   E. Tujuan.........................................................................
                   F.  Manfaat ......................................................................
                   G. Status .........................................................................
                   H.  Misi dan Target .........................................................
                   I.  Pelaksana ....................................................................
                   J.  Peserta ........................................................................
                   K. Waktu dan Lokasi ......................................................
                                   
BAB II  :     PELAKSANAAN KEGIATAN
                   A. Pembekalan ................................................................
                   B.                                                                                      Pelaksanaan di Lapangan       
                   C. Program KPPM...........................................................
                                   
BAB III :     PEMBIMBINGAN         
                   A. Personalia Pembimbing KPPM...................................
                   B.                                                                                      Tugas dan Wewenang Pembimbing KPPM   
                   C. Pelaksanaan Bimbingan ..............................................
                       
BAB IV      :    PEMBUATAN PROGRAM DAN PELAPORAN
A.     Pembuatan Program KPPM
B.     Pelaporan
                  
BAB V  :     TATA TERTIB DAN SISTEM PENILAIAN
A.     Tata tertib dan Sistem Penilaian Pembekalan
B.     Tata tertib dan Sistem Evaluasi Pelaksanaan di lapangan
            
LAMPIRAN

BAB I
PENDAHULUAN
A.     DEFINISI OPERASIONAL
Kuliah Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (KPPM) merupakan kegiatan intrakurikuler yang memberi kesempatan kepada mahasiswa untuk belajar dan bekerja bersama masyarakat. Kuliah Penelitian dan Pengabdian Masyarakat yang dilakukan oleh mahasiswa bukan berarti mengajar masyarakat tentang sesuatu yang terbaik untuk mereka, tetapi melakukan pemberdayaan sebagai sebuah proses pencarian (research) yang dilakukan bersama‑sama untuk mencari jalan terbaik dalam penyelesaian persoalan yang dihadapi masyarakat, ataupu mahasiswa yang merupakan bagian integral dari masyarakat. Mahasiswa melakukan tugas pendampingan terhadap apa yang dibutuhkan oleh masyarakat dalam menghadapi problem sosial yang ada di tengah‑tengah mereka. Secara implisit KPPM ini merupakan aplikasi keilmuan yang diperoleh mahasiswa di bangku kuliah untuk diterapkan kepada masyarakat dalam bidang agama, pendidikan dan sosial.

B.     LATAR HISTORIS
Kuliah Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (KPPM) merupakan perubahan dan pengembangan dari konsep Kuliah Kerja Nyata (KKN) yang dipakai pada rentang kesejarahan Orde Baru.[1] Setelah  mangalami berbagai model dan pengembanganya sejalan dengan perubahan kondisi, pemikiran dan hasil evaluasi. Pada mulanya KKN sebagai bentuk kepanjangan tangan program pemerintah dalam mempercepat proses pernbangunan nasional, yaitu mahasiswa terjun ke masyarakat untuk mempercepat perubahan sosial.
Pada tahun 1950-an, beberapa Perguruan Tinggi melaksanakan program Pengerahan Tenaga Mahasiswa. Perguruan Tinggi mengirimkan mahasiswanya ke pedesaan dan terutama ke luar pulau Jawa, sebagai upaya mempercepat perubahan sosial dan membantu pemerataan pembangunan di Era Orde Lama.
Program ini dinilai sangat berhasil, karena dalam waktu singkat, di berbagai daerah tumbuh sekolah-sekolah menengah, yang pada gilirannya menumbuhkan semangat masyarakat dalam membangun daerahnya. Namun aktivitas ini membutuhkan pengorbanan luar biasa dari mahasiswa, karena mereka dipaksa berada di daerah lokasi program dalam jangka waktu yang cukup lama, sehingga waktu kuliah mereka juga relatif lebih panjang. 
Pada tahun 1971/1972 diadakan proyek perintis yang dinamakan "Pengabdian Mahasiswa Kepada Masyarakat" yang dilaksanakan oleh tiga universitas, yaitu Universitas Gadjah Mada, Universitas Hasanuddin, dan Universitas Andalas. Kegiatan mahasiswa di pedesaan ini merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari bagian kurikulum pendidikan di perguruan tinggi. Kegiatan inilah yang pada masa Orde Baru berkembang dengan Istilah Kuliah Kerja Nyata (KKN).  Dalam perkembangannya KKN melalui beberapa fase penting, yakni:
Fase pertama, kegiatan Kuliah Kerja Nyata pada saat itu merupakan proyek pemerintah sehingga segala pembiayaan mahasiswa di desa ditanggung oleh pihak pemerintah. Kehadiran mahasiswa bagi masyarakat dan juga pihak aparat pemerintah desa ketika itu, mereka dipandang sebagai cendekiawan muda (orang pintar) sehingga dikagumi dan dihormati saat mereka melakukan kegiatan di daerah tersebut. Di sini mahasiswa sebagaimana layaknya seorang tamu di desa dan pihak penerima sepertinya memiliki status yang berbeda sehingga berdampak pada respons positif terhadap mahasiswa yang bekerja di desa tersebut. Hal ini pula didukung oleh kondisi saat itu, yaitu peran mahasiswa dalam pergolakan politik yang cukup menonjol, seperti munculnya angkatan 66 yang dipelopori oleh kalangan mahasiswa.
Fase kedua, kegiatan Kuliah Kerja Nyata diprogramkan setelah tahun 1966 -1972 sebagai ajang pengabdian karena Perguruan Tinggi dipandang sebagai menara gading, dimana ilmu pengetahuan yang dipelajari tidak menyentuh kenyataan dan kebutuhan sehari-hari masyarakat. Mahasiswa yang datang ke desa mendapatkan respons tidak seperti pada fase pertama, karena pihak masyarakat desa memandang sebagai kegiatan wajib akademik. Pada fase ini Kuliah Kerja Nyata dipandang sebagai bentuk kegiatan untuk membantu pekerjaan pemerintah‑ (mahasiswa diposisikan sebagai pekerja). Sehingga posisinya cukup problematik, karena kegiatan mahasiswa diarahkan untuk menyelesaikan pekerjaan‑pekerjaan pemerintah.
Ada ciri yang menonjol pada fase ini, di antaranya adalah (1) kegiatan lebih berorientasi pada pelayanan kepada masyarakat, tetapi tidak mampu membangkitkan semangat masyarakat untuk berbuat, (2) lebih berorientasi pada pelayanan untuk menyelesaikan berbagai pekerjaan di desa bersangkutan, (3) bersifat top down dalam menggali masalah dan menyelesaikan sendiri untuk masyarakat, (4) mahasiswa memfungsikan diri sebagai problem solver dalam menjawab problem sosial, (5) masyarakat dijadikan sebagai objek, (6) hanya bersifat formalitas yang cenderung ke arah seremonial akademik semata, dan (7) hasil kegiatan hanya berwujud laporan kegiatan.
Melihat realitas seperti itu, maka INSURI Ponorogo berupaya membenahi kegiatan Kuliah Kerja Nyata di desa dengan mengubah pola yaitu dari yang bersifat pragmatis, menuju aktivitas bersifat analitis tapi namun tetap memiliki dimensi kemanfaatan praksis bagi masyarakat, dengan mengambil bentuk Kuliah Penelitian dan Pengabdian Masyarakat. Perubahan ini sengaja dilakukan agar kritisisme mahasiswa dalam melihat realitas sosial benar‑benar menjadi nilai unggul tersendiri, yang merupakan keahlian yang akan bermanfaat dikemudian hari. Mahasiswa diposisikan sebagai agent perubahan di masyarakat melalui pendekatan partisipatif, yaitu belajar dan bersama‑sama memetakan berbagai problem dan potensi dalam masyarakat.
Dengan menggunakan pendekatan tersebut Kuliah Penelitian dan Pengabdian Masyarakat lebih berorientasi kepada: (1) kebutuhan masyarakat (berbasis realitas), (2) penguatan aspek metodologis baik dosen pembimbing maupun mahasiswa secara sistemik, (3) dipahami sebagai proses belajar dan bekerja bersama masyarakat, (4) lebih mengarah pada perubahan sosial yang berdimensi religius dalam suatu masyarakat, (5) menyatukan ketiga aspek; pendidikan, penelitian, dan pemberdayaan masyarakat, (6) bersifat bottom up, yakni menggali potensi dan problem secara partisipatif, (7) masyarakat dijadikan sebagai subjek bukan objek, (8) menjawab kebutuhan masyarakat, mengembangkan ilmu dan mempengaruhi perubahan, dan (9) hasilnya, berupa analisis‑analisis kritis sosial keagamaan dan dapat dipertanggungjawabkan secara akademik.
Berdasar pendekatan diatas, maka mahasiswa dan insan akademik pada umumnya perlu dibekali dengan berbagai pendekatan pengabdian masyarakat secara partisipatif yang tetap dalam area penelitian. Dari tuntutan pendekatan ini, Metode PAR (Participatory Action Research) yang diinspirasi dari program penyadaran masyarakat oleh Paolo Freire di Brazillia, menjadi pilihan untuk dikembangkan dalam pemikiran dan keahlian dasar mahasiswa.
Oleh karena itu mulai KPPM pada tahun 2011, pelaksanaannya dilakukan dengan pendekatan PAR, yang kemudian di sebut dengan KPPM berbasis PAR. KPPM berbasis PAR, merupakan bentuk respon atas perubahan paradigmatik secara nasional, yang menekankan proses pembangunan secara partisipatif dan berkelanjutan (participatory and sustainable development), dan berlandaskan nilai demokrasi yang berkeadilan. 
C.     TEMA DAN ORIENTASI
Tema Kuliah Penelitian dan Pengabdian Masyarakat tahun akademik 2011 ini adalah “Belajar dari Kearifan Lokal: Bersama Menuju Masyarakat yang Berdaya”. Untuk itu, beberapa langkah yang harus ditempuh adalah:
1.      Melakukan analisis tentang keadaan desa secara umum, yang melakukan pengkajian tentang peta wilayah desa (secara geografis), keadaan sosial ekonomi masyarakat, sosial politik, dan sosial budaya dan melakukan rekonstruksi atas sejarah desa.
2.      Melakukan analisis kondisi desa secara terfokus pada problem sosial keagamaan dengan mengaitkan problematika yang dialami masyarakat desa secara umum, dan nilai-nilai masyarakat setempat.
3.      Melakukan tindakan – tindakan (aksi sosial), sebagai salah satu upaya memecahkan masalah sosial keagamaan dan masalah lain sesuai dengan potensi yang ada didesa
4.      Melakukan evaluasi kritis, dengan melakukan refleksi atas proses yang telah dilakukan, sejak dari proses analisis sampai pada pelaksanaan tindakan.
Gambar 1
Tahap Pelaksanaan

D.    DASAR PEMIKIRAN
Penyelenggaraan Kuliah Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Institut Agama Islam Sunan Giri Ponorogo tahun 2011 dilandasi oleh beberapa dasar pemikiran
1.      Di lingkungan Institut Agama Islam Sunan Giri Ponorogo, Kuliah Penelitian dan Pengabdian Masyarakat merupakan kegiatan intrakurikuler yang pelaksanaannya mempertimbangkan keterpaduan tiga aspek yaitu, pendidikan dan pengajaran, penelitian, serta pengabdian masyarakat.
2.      Berdasarkan hasil analisis situasi dan kondisi, Kuliah Penelitian dan Pengabdian Masyarakat merupakan tuntutan dalam rangka merespons kebutuhan nyata masyarakat yang sarat dengan dinamika dan permasalahan.
3.      Sesuai dengan tuntutan Institut Agama Islam Sunan Giri Ponorogo, maka dipandang perlu mengembangkan Kuliah Penelitian dan Pengabdian Masyarakat dalam bentuk dan ragam program yang realistis, berdimensi pemberdayaan masyarakat, dan menyentuh langsung kebutuhan masyarakat khususnya di bidang keagamaan, pendidikan, sosial, budaya, dan ekonomi.

E.     LANDASAN
Kuliah Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Institut Agama Islam Sunan Giri Ponorogo tahun 2011 dilaksanakan berdasarkan landasan sebagai berikut:
1.      Undang‑Undang No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional;
2.      Peraturan Pemerintah No. 60 tahun 1999 tentang Pen­didikan Tinggi;
3.      Keputusan Menteri Agama No.352 tahun 2004 tentang Pedoman Penyusunan Kurikulum Pendidikan Tinggi Agama Islam Islam Keputusan Menteri Pendidikan Nasional No.232/U/2000 tentang Pedoman Penyusuanan Kurikulum Pendidikan Tinggi dan Penilaian Hasil Belajar Mahasiswa
4.       Statuta Yayasan Perguruan Tinggi Nahdlatul Ulama Batoro Katong Tahun 2007
5.       Pedoman Akademik Insuri Ponorogo tahun 2010.
F.     TUJUAN
1.      Tujuan Umum.
Kegiatan pengabdian kepada masyarakat bertujuan meningkatkan kemampuan sumber daya manusia (SDM) dalam memenuhi kebutuhan masyarakat dan memecahkan problem sosial bersama‑sama masyarakat dalam rangka meningkatkan kesejahteraan sosial sesuai dengan visi, misi, dan fungsi Institut Agama Islam Sunan Giri Ponorogo.
2.      Tujuan Khusus
a.       Memperkuat potensi yang dimiliki masyarakat terutama kemampuan sumber daya manusia (SDM) dalam menghadapi berbagai tantangan globalisasi ekonomi dan perkembangan iptek.
b.      Mempercepat upaya pengembangan masyarakat ke arah terciptanya masyarakat yang mandiri, yang dapat cepat tanggap terhadap perubahan sosial, dengan tetap berpijak pada kerifan tradisi lokal (local wisdom) yang mengakar dalam kehidupan masyarakat
c.       Mempercepat upaya penguatan kelembagaan sosial dalam masyarakat dan meningkatkan keahlian masyarakat dalam meningkatkan kesejahteraan hidup dan kemandirian.
d.      Melatih penalaran dan kepekaan mahasiswa dengan bekerja sama antar dalam suatu team work dan menggunakan ilmu yang interdisipliner (antar disiplin ilmu).
e.       Memberikan kepada mahasiswa pengalaman belajar dan bekerja secara langsung dalam menghadapi berbagai persoalan yang kompleks, melalui proses yang partisipatif. sehingga dapat membantu masyarakat menemukan cara menyelesaikan problem sosial yang dihadapi oleh masyarakat.
3.      Tujuan Institusional
a.       Agar perguruan tinggi dapat menghasilkan lulusan yang memiliki wawasan dan keterampilan dalam memahami kompleksitas masalah yang dihadapi masyarakat, serta mampu bersama-sama masyarakat memecahkan berbagai problema tersebut
b.      Memberikan kontribusi bagi pengembangan Tri Dharma Perguruan Tinggi Agama Islam (pendidikan dan pengajaran, penelitian, serta pengabdian pada masyarakat).
c.       Agar perguruan tinggi semakin mampu memberikan manfaat sosial yang lebih luas pada masyarakat

G.    MANFAAT
Kuliah Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Institut Agama Islam Sunan Giri Ponorogo tahun 2011 memberikan manfaat pada masyarakat, pemerintah, mahasiswa dan Institut Agama Islam Sunan Giri Ponorogo.
1.      Bagi Masyarakat.
a.       Memperoleh bantuan tenaga dan pikiran untuk meningkatkan cara berpikir, pengetahuan dan keterampilannya, sehingga dapat menumbuhkan potensi sumber daya yang ada dan selanjutnya berkembang secara mandiri.
b.      Terbentuknya kemampuan dan partisipasi masyarakat dalam pembangunan, sehingga upaya kelanjutan pembangunan, khususnya pembangunan dalam bidang pendidikan,agama dan sosial dapat terjamin
c.       Memahami bahwa program Kuliah Penelitian dan Pengabdian Masyarakat merupakan bagian dari pembangunan bidang pendidikan di perguruan tinggi dalam sektor penelitian dan pengabdian masyarakat.
d.      Mendapatkan peningkatan cara berpikir secara terprogram yang sejalan dengan program pembangunan secara inovatif dan konstruktif.
2.      Bagi Pemerintah
a.       Membantu mempercepat proses pembangunan yang dilaksanakan oleh pemerintah dalam meningkatkan sumber daya manusia.
b.      Membuka akses kemitraan dan komunikasi timbal balik antara perguruan tinggi dengan pemerintah.
3.      Bagi Mahasiswa.
a.       Mendewasakan cara berpikir, bersikap, dan bertindak.
b.      Meningkatkan daya penalaran mahasiswa dalam melakukan pengkajian, perumusan dan pemecahan masalah secara praktis dan terpadu.
c.       Melatih dan membiasakan mahasiswa dalam menghadapi dan menyelesaikan permasalahan melalui kerjasama antar bidang keahlian.
d.      Meningkatkan penghayatan dan pengetahuan mahasiswa terhadap berbagai masalah dalam masyarakat yang sedang melaksanakan pembangunan, khususnya di bidang pendidikan, agama dan sosial.
e.       Mempersiapkan diri menjadi motivator, inovator, dinamisator, fasilitator, dan katalisator bagi penyelesaian problem sosial keagamaan.
f.        Membekali mahasiswa dengan pengalaman sebagai penerus pembangunan yang bertanggungjawab terhadap dirinya sebagai seorang profesional.
g.       Menjadi ruang pengembangan dan penguatan mahasiswa di Perguruan Tinggi dalam keluarga besar Nahdlatul ‘Ulama untuk membantu aktivitas keorganisasian dan aktivitas sosial keagamaan kaum nahdliyyin di lokasi KPPM yang ada ranting NU atau komunitas nahdliyyin tinggal.  
4.      Bagi Institut Agama Islam Sunan Giri Ponorogo
a.       Meningkatkan partisipasi dan peranan Institut Agama Islam Sunan Giri Ponorogo dalam melaksanakan pembangunan di bidang pendidikan, agama dan sosial.
b.      Meningkatkan kerjasama Institut Agama Islam Sunan Giri Ponorogo dengan pemerin­tah daerah dan instansi yang terkait.
c.       Mendapatkan masukan balik (feed back) dari masyarakat sehingga menjadi masukan untuk memantapkan fungs perguruan tinggi sebagai pusat pendidikan, penelitian dan pengabdian masyarakat berikut pengembangannya berkenaan dengan ilmu pengetahuan agama Islam yang berwawasan ahlusunnah wal jama’ah.
H.   STATUS
KPPM Institut Agama Islam Sunan Giri Ponorogo tahun 2011 berstatus intrakurikuler yang berbobot 6 sks yang terdiri dari :
1.      Kuliah Penelitian Kolektif dengan bobot 2 sks
2.      Kuliah Pengabdian Masyarakat dengan bobot 4 sks

I.       MISI DAN TARGET
1.      Misi
a.       Misi Akademis. Kuliah Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (KPPM) INSURI Ponorogo tahun 2011 merupakan upaya untuk memadu­kan berbagai disiplin ilmu baik secara inter maupun multidisiplin yang dikembangkan oleh Institut Agama Islam Sunan Giri Ponorogo.
b.      Misi Sosial. Kuliah Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Institut Agama Islam Sunan Giri Ponorogo tahun 2011 merupakan upaya penggalian potensi masyarakat ke arah perubahan sosial dan kemandirian.
2.      Target
a.       Terlaksananya program Kuliah Penelitian dan Pengabdian Masyarakat dalam bentuk kegiatan pembangunan masyarakat sehingga dapat meningkatkan keterampilan, pengetahuan dan profesionalisme peserta.
b.      Meningkatnya kesadaran dan tanggung jawab mahasiswa terhadap perannya dalam pembangunan masyarakat.
c.       Meningkatnya jalinan kerja sama antara Institut Agama Islam Sunan Giri Ponorogo dengan pemerintah dan masyarakat.

J.       PELAKSANA
Pelaksana Kuliah Penelitian dan Pengabdian Masyarakat adalah sebuah badan pelaksana yang ditunjuk melalui Surat Keputusan Rektor Institut Agama Islam Sunan Giri Ponorogo.

K.     PESERTA
Peserta KPPM Insuri Ponorogo tahun 2011 direncanakan berjumlah 153 orang, dari mahasiswa Fakultas Tarbiyah (PAI, PAI-Prog MADIN, PBA, PGMI), Fakultas Syari'ah (Mu’amalah) dan Fakultas Dakwah (KPI).

L.     WAKTU DAN LOKASI

Kegiatan lapangan Kuliah Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Institut Agama Islam Sunan Giri Ponorogo tahun 2011 dilaksanakan pada tanggal 18 Juli sampai 18 Agustus 2011 dan berlokasi Kecamatan Sampung*) Kabupaten Ponorogo.

BAB II

PELAKSANAAN KPPM


KPPM Insuri Ponorogo tahun 2011 dilakukan secara kolektif dan dibagi menjadi beberapa kelompok  yang mana tiap-tiap kelompok melakukan satu buah penelitian kolektif dan satu pelaporan ringkas kegiatan pengabdian masyarakat.
Pelaksanaan KPPM INSURI Ponorogo didelegasikan kepada Badan Pelaksana KPPM (BP KPPM) yang dibentuk oleh Rektor, dengan melalui lima tahap, yaitu persiapan badan pelaksana, pendaftaran peserta, pembekalan dan pelatihan peserta sebelum terjun ke lapangan, pelaksanaan kegiatan di lapangan serta pelaporan dan seminar hasil kegiatan setelah selesai melaksanakan KPPM.

A.     Persiapan Badan Pelaksana
Kegiatan ini dimulai dari menyusun konsep dasar dan pedoman teknis KPPM, menentukan lokasi yang disesuaikan dengan assesment kepada Mahasiswa, melakukan pendekatan dan berbagai koordinasi dengan pihak internal kampus maupun kepanitiaan, serta pihak eksternal yang menyangkut pelaksanaan KPPM, memperkuat pemahaman DPL terkait tekhnik dan metode PAR dan diakhiri dengan pendafataran peserta KPPM.

B.     Pembekalan
Pembekalan peserta KPPM dilaksanakan di kampus sesuai dengan kebutuhan, dengan tujuan :
1.      Memberikan pengetahuan tentang analisis sosial dan materi PAR:
a.       KPPM berbasis realitas yang dihadapi masyarakat
b.      Keterampilan Analisis Sosial: Pendidikan dan Penumbuhan Kesadaran Kritis
c.       Agama dan Perubahan Sosial di Masyarakat
d.      Keahlian Dasar Seorang Fasilitator
e.       Mengenal PRA (Participatory Rural Appraisal)
f.        Tekhnik Pengkajian desa secara Partisipatif yaitu Pemetaan, Hubungan antar Institusi, Kalender Musim, Alur Sejarah, Perubahan dan Kecenderungan dan Pohon Masalah, SWOT dan keahlian wawancara mendalam
2.      Pembekalan Penunjang:
a.       Arah dan Makna KPPM
b.      Mengenalkan lokasi KPPM
c.       Praktik Keagamaan yang bersendi Tradisi Lokal Masyarakat
d.      Pengelolaan Lembaga Pendidikan dan Institusi Keagamaan Lokal
3.      Memberikan latihan pembuatan program dan laporan, baik laporan penelitian maupun laporan pengabdian kepada masyarakat selama melaksanakan KPPM.
4.      Memberikan pengetahuan tentang kebijaksanaan umum pemerintah dan Program terkait pemberdayaan masyarakat serta struktur pemerintahan desa di era Reformasi.

Pembekalan dilaksanakan selama 4 hari dengan dipandu oleh  BP KPPM dan Fasilitator yang telah disiapkan dan berasal dari unsur dosen, pakar pada bidangnya, dan pimpinan organisasi pemerintahan dan yang berkait dengan pelaksanan KPPM.  Pembekalan dengan metode : ceramah singkat dan tanya jawab, brainstorming, role playing, project/penugasan.

 B.  Persiapan Peserta
Kegiatan ini minimal dilakukan 14 hari sebelum pelaksanaan KPPM, yang dibagi dua kegiatan sebagai berikut:
1.      Melakukan pemetaan awal dengan cepat terhadap kondisi desa (Rapid Rural Appraisal) atau observasi awal yang merupakan semacam survey terhadap kegiatan rutin dilingkungan lokasi, tradisi keagamaan yang berkembang, tokoh-tokoh kunci (baik formal ataupun informal), lembaga-lembaga desa dan potensi sosial yang ada dalam masyarakat. 
2.      Membuat program penunjang KPPM dalam program kegiatan rutin pada bidang pemberdayaan dan penguatan komunitas agama, pemberdayaan dan pendidikan generasi muda, penguatan lembaga keluarga, serta partisipasi dalam penguatan tata laksana desa. Program ini telah dikonsultasikan dan disetujui Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) dan disetorkan pada BP KPPM 2 hari sebelum hari H pemberangkatan ke lokasi

 C.  Kegiatan Lapangan
Kegiatan Lapangan dilaksanakan dalam 30 hari pelaksanaan kegiatan dengan bobot kerja setiap hari sebanyak 10 jam. Untuk memudahkan pelaksanaannya, mahasiswa harus tinggal bersama masyarakat desa di lokasi KPPM. Kegiatan ini harus didokumentasikan oleh masing-masing mahasiswa dalam suatu field note (catatan lapangan). Adapun rincian kegiatannya adalah sebagai berikut:

1.      Kegiatan Rutin Harian sebagai Program Penunjang
Program penunjang KPPM ini berfungsi sebagai media pendukung pelaksanaan PAR, agar mahasiswa mampu menyatu dan aktif dengan aktivitas keseharian masyarakat selama berada dilokasi KPPM. Yang terdiri dari kegiatan bidang pemberdayaan dan penguatan komunitas agama, pemberdayaan dan pendidikan generasi muda, penguatan lembaga keluarga, serta partisipasi dalam penguatan tata laksana desa

2.      Pelaksanaan PAR
a.  Tahap assesment lanjutan dengan tekhnik Participatory Assesment
Pengkajian desa/dukuh secara partisipatif dengan menggunakan pendekatan partisipasi masyarakat desa (Participatory Rural Appraisal), dengan langkah-langkah sebagai berikut:
1)   Mahasiswa bersama masyarakat membuat peta (mapping) dukuh/lingkungan lokasi kegiatan, dengan bahan bantuan peta yang sudah ada di dokumen desa/RPJMDES dengan menggambar kondisi wilayah (RT/RW), dengan berbagai kondisinya. Tekhnik ini dilakukan bersama masyarakat, dengan tujuan memfasilitasi masyarakat  menggambarkan keadaan wilayah desa secara umum, kemudian difokuskan pada peta yang terfokus pada kondisi sosial keagamaan. Hasil yang diperoleh adalah : peta dan sketsa keadaan umum desa dan keadaan sosial keagamaan (lihat lampiran).
2)   Mahasiswa membuat Kalender Musim (Seasional Calendar) untuk mengetahui kegiatan utama, masalah dan kesempatan dalam siklus tahunan yang dituangkan dalam bentuk diagram. Hasilnya dibuat dalam bentuk matrik sebagai informasi penting dan dasar membuat rencana program yang bersifat musiman. (Lihat lampiran)
3)   Mahasiswa membuat diagram venn, tentang hubungan kelembagaan di desa agar dapat diketahui 5W+1H: apa masalah yang ada didesa (what), siapa (aktor yang terlibat dalam masalah ini/who), mengapa terjadi masalah ini (why), dimana (menunjuk pada peran terpenting dalam masalah ini/where), bagaimana (bentuk dan pola peran yang dimainkan/how) (Lihat lampiran).
4)   Mahasiswa melakukan penelusuran sejarah berdasar time line (urutan waktu) dengan menggali kejadian penting (misal PILKADES, peristiwa besar/bencana dan sejenisnya, pembangunan pasar) yang dialami dalam suatu waktu dalam masyarakat. Dari sini mahasiswa mengenali perubahan kecenderungan (trend and change) berbagai keadaan dari waktu kewaktu, dari kejadian-ke kejadian.
5)   Buat transector untuk memberi gambaran umum tentang kondisi, potensi, masalah, hal yang pernah dilakukan dan harapan masyarakat, pada aspek geografis/demografis tertentu (lihat lampiran)
6)   Mahasiswa membuat matrik rangking masalah utama yang ada di desa berdasarkan urutan, posisi, kedudukan dan penggolongan. Data ini digunakan untuk urutan prioritas, pilihan masyarakat yang paling medesak dicarikan solusi dan perhatian
7)   Mahasiswa membuat rumusan masalah yang merupakan problem nyata dalam masyarakat, yang dibuat dalam bentuk pohon masalah dan pohon harapan.

b.  Tahap Perencanaan Partisipatif (Participatory Planning)
Setelah tahap PRA di jalani dan ditemukan problem sosial secara mendetail, langkah selanjutnya adalah menyusun dan membuat rencana program (rangkaian kegiatan) yang dibuat bersama-sama stakeholder masyarakat.
Tahap ini menjawab: Rangkaian kegiatan seperti apa yang dapat dilaksanakan untuk mengatasi problem prioritas didalam masyarakat?

Dokumen yang dihasilkan berbentuk rencana kegiatan sesuai urutan prioritas yang telah ditetapkan dalam matrix rangking. Model  perencanaan ini dapat memakai model SWOT atau model sejenis.

c.  Tahap Pelaksanaan Program (participatory Action)
Kegiatan dilaksanakan sesuai problem dan rencana kegiatan untuk menyelesaikan problem yang telah direncanakan. Beberapa hal penting yang akan dilakukan adalah membuat sosialisasi program bersama masyarakat, melakukan persiapan teknis maupun sosial, melaksanakan rangkaian pelatihan (aktivitas intervensi tertentu), melakukan kunjungan setelah pelatihan secara rutin
d.  Tahap Refleksi dan Rencana Tindak Lanjut (RTL)
Proses ini berbentuk pencarian informasi, dengan melakukan pencatatan sistematis, analisa berkala bersama masyarakat terhadap informasi/materi/kegiatan yang dilaksanakan dalam program yang dipilih, yang berisi kelebihan, kekurangan, dampak dan lain sebagainya

Sementara RTL, adalah ruang dimana dilakukan perencanaan tindak lanjut, setelah pelaksanaan program yang dilaksanakan. Kegiatan ini memberikan jawaban pada pertanyaan: Apa yang akan dilakukan oleh masyarakat bersama mahasiswa untuk menindaklanjuti kegiatan dimasa yang akan datang, agar masalah yang dihadapi segera terselesaikan? kegiatan ini adalah tanda dimulainya siklus ke 2 suatu penelitian/aktivitas lanjutan yang akan dilaksanakan mahasiswa dimasa setelah KPPM.
 
e.  Evaluasi Kegiatan Lapangan
Pada fase ini DPL bersama mahasiswa dalam pelaksanaan kegiatan lapangan, untuk mengkontrol penggunaan tekhnik PAR dalam kegiatan lapangan KPPM, melalui pemeriksaan Catatan Lapangan.

 D.  Kegiatan Pasca Lapangan
1.      Membuat Laporan
Laporan KPPM berbasis pendekatan PAR, memuat hal-hal sebagai berikut:
a.  Gambaran umum Desa yang meliputi:
1)      Peta wilayah baik fisik maupun non fisik
2)      Keadaan social-ekonomi, politik, dan sosial budaya masyarakat setempat
3)      Keadaan Sosial Keagamaan masyarakat setempat
b.  Alur Kegiatan (dari awal sampai akhir)
c.  Deskripsi tentang Program/kegiatan yang dijalankan
d.  Pelaksanaan Kegiatan
e.  Tanggapan Masyarakat
f.   Hasil yang dicapai
g.  Dampak dan Perubahan yang terjadi
h.  Rencana Tindak Lanjut dan Refleksi (Hikmah)
i.    Lampiran (gambar/peta, sketsa, diagram venn, kalender musim dsb)
j.    Catatan lapangan per mahasiswa

2.      Seminar Laporan KPPM
Laporan penelitian yang berupa laporan yang berbentuk PAR, dipresentasikan oleh peserta KPPM, dilakukan di depan tim penilai yang terdiri atas Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) dan panitia pelaksana (BP KPPM) INSURI Ponorogo. Laporan yang tidak memenuhi syarat minimal, harus direvisi oleh peserta KPPM, dengan batas waktu yang ditentukan oleh penguji dan peserta.
Dalam waktu yang ditentukan, peserta harus mengumpulkan hasil penelitian dalam bentuk jilid hard cover dan soft copy dengan format PDF (CD). Peserta yang tidak mengumpulkan dalam batas waktu yang tidak ditentukan akan mendapat sanksi pengurangan nilai oleh BP KPPM. 




BAB III
PEMBIMBINGAN

A.     PERSONALIA PEMBIMBING KPPM

1.      Pembimbing formal atau Dosen Pembimbing Lapangan Institut Agama Islam Sunan Giri Ponorogo yang diangkat oleh Rektor adalah telah memperoleh sertifikat sebagai Dosen Pembimbing Lapangan (DPL).
2.      Pembimbing non formal terdiri dari tokoh ‘Ulama, Camat, Kepala KUA, Kepala Desa dan Kamituwo (Kepala Dusun) yang berwenang di daerah yang menjadi lokasi KPPM.
3.      Rasio Pembimbing dengan Mahasiswa adalah satu dosen pembimbing : 11 Mahasiswa.

B.     TUGAS DAN WEWENANG PEMBIMBING KPPM

  1. Mengikuti semua acara pembekalan
  2. Memberikan bimbingan kepada peserta dalam acara pembekalan maupun di lapangan tentang  :
a.       Cara–cara pengisian  format  yang telah ditetapkan.
b.      Penyusunan dan pembuatan laporan berkala, Laporan akhir dan laporan penelitian masing–masing kelompok.
  1. Memberikan petunjuk kepada peserta tentang penyusunan dan pelaksanaan program, baik harian, mingguan maupun bulanan.
  2. Menampung informasi–informasi dan atau masalah – masalah yang timbul di lapangan dan membantu peme-cahannya, serta kalau dipandang  perlu meneruskannya ke BP KPPM untuk memperoleh penanganan lebih lanjut.
  3. Memberikan peringatan kepada peserta termasuk ketua kelompok yang melakukan tindakan indisipliner.
  4. Jika ada peserta yang melakukan tindakan indisipliner bila dipandang perlu dapat diambil langkah–langkah seperti :
a.       Memberikan teguran lisan
b.      Memberikan peringatan tertulis
c.       Memberikan sangsi
d.      Menarik yang bersangkutan dari lapangan
e.       Menyatakan yang bersangkutan, tidak lulus dalam pelaksanaan KPPM.
  1. Melakukan kunjungan ke kelompok–kelompok di lapangan yang menjadi tanggung jawabnya.
  2. Setiap kali melakukan kunjungan, diharapkan memperhatikan hal – hal sebagai berikut :
a.       Meneliti daftar hadir peserta dan memberikan catatan– catatan seperlunya agar peserta memegang teguh kediplinan dan keteretiban peserta KPPM.
b.      Memberikan bimbingan dan saran–saran dalam pemecahan masalah yang dihadapi dilapangan.
c.       Berkunjung ke rumah salah seorang pejabat desa/dusun setempat.
  1. Mengevaluasi prestasi peserta baik pada pembekalan di Kampus maupun prestasi di lapangan, secara individual menurut ketentuan yang berlaku.
  2. Pembimbing KPPM bertanggung jawab atas keberhasilan peserta di lapangan 

C.     PELAKSANAAN BIMBINGAN

  1. Bimbingan formal dilakukan sekurang-kurangnya seminggu sekali.
  2. DPL setiap kali melakukan kunjungan di lokasi, wajib mengisi blangko laporan bimbingan yang telah disediakan oleh BP KPPM di lokasi.
  3. Bila terjadi masalah atau kasus di kalangan KPPM bimbingannya, DPL segera menyelesaikannya, apabila belum dapat diselesaikan secepat–cepatnya berkonsultasi dengan BP KPPM INSURI untuk dipecahkan secara bersama.
  4. Dalam melaksanakan tugasnya DPL diharapkan berkonsultasi dengan kamituwo setempat, dan berusaha menghadiri pertemuan di dukuhannya, agar dapat mengetahui perkembangan di lapangan.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar